Fri. Nov 15th, 2019

Sebelum Persebaya, 9 Tim Ini Pernah Dilatih Alfred Riedl

3 min read
Sebelum Persebaya, 9 Tim Ini Pernah Dilatih Alfred Riedl

Alfred Riedl yang merupakan manajer asal Austria bakal segera merapat ke Persebaya usai diumumkan manajemen tim. Itu akan menjadi sejarah terkini lantaran sang pelatih selama berkiprah di Tanah Air hanya melatih Timnas Indonesia. Sejak mengawali karir sebagai manajer pada tahun 1989, mantan pemain Timnas Austria tersebut sempat menangani timnas dari 6 negara.

Enam negara tersebut adalah Austria | 1990 – 1991, Lichtenstein | 1997 – 1998, Vietnam | 1998 – 2000 – 2003 – 2004 – 2005 – 2007, Palestina | 2004 – 2005, Laos | 2009 – 2010 dan Indonesia mulai periode 2010 – 2011, 2013 – 2014 dan 2016.

Selain itu, manajer berumur 69 tahun tersebut pernah bergabung dengan 10 tim yang berbeda, tetapi satu di antaranya berperan sebagai direktur teknik ketika bersama klub asal Belgia, yakni CS Vise. Alfred Riedl sudah melatih 9 tim dari enam negara yang berbeda dan belum menorehkan prestasi membanggakan. Ia mengawalinya bersama Wiener SC asal Austria yang berlaga di kasta tertinggi Austria pada musim 1989 hingga 1990 silam.

Baca juga: Bungkam Norwich City, Lampard Beri Kemenangan Perdana Bagi Chelsea

Ia tak mampu berbuat banyak saat mengantarkan tim itu menduduki posisi ke-11  dari 12 finalis. Wiener SC hanya mengemas 11 poin dari 12 dan tidak bisa lolos ke tahap perebutan gelar juara.. Kemudian, Alfred Riedl hengkang ke Favoritner SC yang mengisi kasta kedua asal Austria, serta melatih selama dua periode pada 1991 sampai 1993. Ia gagal membawa timnya untuk promosi pada musim awal, sedangkan musim berikutnya lebih baik dan masuk play-off promosi kendati klub itu gagal menerima tempat ke kasta tertinggi.

Alfred Riedl juga melatih tim kasta kedua asal Autria, yaitu SC Obewart, namun ia hengkang ketika klub itu pada posisi terakhir sekitar musim 1993 hingga 1994. Dia angkat kaki ke Afrika pada musim yang sama usai bergabung dengan Olympique Khourigba, yakni tim kasta teratas asal Maroko. Akan tetapi, dia akhirnya angkat koper usai tim itu terdegradasi pada tahun 1994.

Prestasi lebih bergengsi ditorehkan Alfred Riedl ketika hengkang ke Mesir. Ia bergabung dengan salah satu tim raksasa di Negeri Firaun, yaitu El Zamalek yang sudah berdiri sejak tahun 1911. Klub itu adalah tim yang jarang terdepak dari tiga besar ajang Liga Primer Mesir. Meski begitu, sang manajer tiba ketika musuh utama klub bernama Al Ahly tengah mendominasi turnamen tersebut beberapa periode sebelumnya.

Alfred Riedl hanya melatih pada periode 1994 sampai 1995, tepatnya tahap pertama ajang Liga Primer Mesir. Ia angkat koper lagi ketika turnamen belum berakhir. El Zamalek akhirnya menduduki posisi kedua menyusul Al Ahzy. Dua klub itu menjadi pemuncak klasemen yang mengemas gelar kasta tertinggi ajang Liga Mesir terbanyak. El Zamalek sudah meraih 12 gelar juara, sedangkan Al Ahzy.

Setelah itu, Alfred Riedl mencoba berkarir di Asia. Sempat melatih beberapa timnas, ia akhirnya bergabung dengan tim kasta kedua asal Vietnam, yaitu Khatoco Khanh Hoa pada tahun 2001. Ia tak menorehkan prestasi apapun bersama klub tersebut.

Ia akhirnya merantau ke Tanah Arab dengan melatih Al Samiya, klub asal Kuwait. Dia memberi pengaruh positif selama dua musim di sana. Ia mengantarkan tim ke papan atas dengan menempati peringkat empat bersama Liga Primer yang dimenangkan oleh Al Arabi pada periode 2001 hingga 2002.

Sementara itu, ia kembali ke Vietnam, namun melatih tim kasta pertama bernama Han Phong. Dia membawa tim dengan menduduki posisi ketiga pada musim 2008 dan 2009, sedangkan periode berikutnya patut berbangga hati dengan peringkat tujuh klasemen akhir.

Karir sang manajer mulai diakhiri dengan beberapa timnas, termasuk Laos dan Indonesia. Alfred Riedl kembali melatih tim ketika menerima pinangan dari PSM Makassar pada awal tahun 2015, yang merupakan sejarah baru baginya. Tapi, ia tak sempat mengikuti debut sebagai juru taktik di turnamen Tanah Air. Sebab, dia mundur sebagai pelatih sebelum ISL 2015 digelar karena masalah kesehatan. Liga 1 tahun 2015 akhirnya dibekukan lantaran banyak sekali masalah di sepak bola nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *