Sat. Dec 7th, 2019

3 Sebab Maurizio Sarri Akan Kesulitan Penuhi Harapan Juventus

3 min read
3 Sebab Maurizio Sarri Akan Kesulitan Penuhi Harapan Juventus

Maurizio Sarri sudah ditunjuk sebagai juru taktik baru Juventus. Pelatih berumur 60 tahun tersebut menggantikan posisi Massimiliano Allegri yang berhenti beberapa pekan lalu. Bisakan dia berhasil menangani I Bianconeri?

Maurizio Sarri hengkang dari Chelsea pada musim panas tahun ini. Mantan pelatih Napoli tersebut kembali ke Negeri Pisa usai satu periode berkiprah di ajang Liga Inggris.

Karir mantan pelatih Napoli tersebut dengan Chelsea sebenarnya tidak mengecewakan. Ia sukses membawa The Blues menyabet gelar juara ajang Liga Europa dan menempati posisi ketiga di klasemen akhir ajang Premier League.

Akan tetapi, hal tersebut tidak mampu menjadi sebab untuk Maurizio Sarri agar tetap bertahan sebagai pelatih Chelsea. Juventus akhirnya bergerak lebih cepat mendatangkan sang pelatih dengan kontrak selama tiga tahun.

Maurizio Sarri tentunya memiliki tugas yang sulit saat melatih Juventus. Dia pasti dituntut untuk meraih keberhasilan serupa seperti Massimiliano Allegri.

Tak hanya itu, Maurizio Sarri juga akan dibebani target utama, yakni juara ajang Liga Champions. Liga Champions adalah impian petinggi Juventus. Tim raksasa ajang Liga Italia tersebut baru mencatatkan dua kali kampiun ajang Liga Champions.

Baca juga: Chelsea Wajib Bayar Rp.72 Miliar untuk Rekrut Frank Lampard

Selain itu, I Bianconeri merasa cukup puas menjadi pemenang dalam kompetisi terbaik di Italia selama 8 tahun berturut-turut. Maurizio Sarri juga wajib memberi hasil yang lebih baik dari sebelumnya.

Maurizio Sarri bakal mengalami kendala selama menanggung beban yang diberikan Juventus kepada dirinya seperti di bawah ini, antara lain :

  • Belum Siap Mengalami Tekanan Tinggi

Maurizio Sarri diketahui sebagai manajer yang hebat terhadap prinsipnya. Hal itu sangat baik demi menciptakan sikap tim yang ditanganinya, namun juga menimbulkan konsekuensi bagi ia sendiri.

Strategi ala Maurizio Sarri belum tentu menyediakan gelar. Karir kepelatihan sang manajer membuktikan bila dia minim memperoleh gelar juara.

Pencapaian tunggal yang diraihnya adalah mengantarkan Chelsea sebagai pemenang ajang Liga Europa musim lalu, sedangkan ia tidak menyabet gelar apapun ketika melatih Napoli, Empoli serta Perugia.

Bisa dikatakan kepergian Maurizio Sarri ke Juventus adalah langkah besar dalam kiprah kepelatihannya. Dia berkembang dan masuk jajaran terbaik.

Namun, konsekuensi yang bakal ia dapatkan adalah tekanan yang semakin berat. Ia tidak bisa tenang melatih tim dan gelar adalah kewajiban yang wajib diwujudkan sang pelatih.

Situasi tersebut telah dialami Maurizio Sarri saat menangani Chelsea. Pelatih kelahiran 10 Januari tahun 1959 tersebut menjadi bahan kritikan sepanjang periode kompetisi, termasuk ketika menyerahkan gelar juara sekalipun.

  • Butuh Waktu untuk Adaptasi Metode Sarri-Ball

Maurizio Sari mempunyai cara berlaga yang disebut Sarri-Ball. Konsep tersebut mengutamakan pertandingan gabungan cepat yang begitu ofensif.

Metode itu berhasil diterapkan di Napoli, tetapi belum tentu bisa diterapkan untuk tim lain. Lihat saja beberapa pemain Chelsea merasa kerepotan saat menerapkan metode tersebut.

Stabilitas permainan Chelsea mulai terbentuk jelang akhir periode. Gelar juara ajang Liga Europa menjadi hasil dari penerapan metode yang diyakini sang pelatih.

Lantas, apakah Juventus bisa sabar terhadap waktu adaptasi tersebut? Petinggi tim mungkin tidak ingin beradaptasi untuk memengaruhi pencapaian gelar juara.  Sebab, Juventus menuntut Maurizio Sarri lebih cepat beradaptasi dengan para pemainnya.

Itu merupakan pekerjaan yang tidak mudah, lantaran beberapa pemain I Bianconeri saat ini adalah peninggalan Massimiliano Allegri, serta dikenal dengan gaya bermain yang selalu bertahan.

  • Kesulitan Mengatur Pemain Terbaik

Ketika melatih Napoli serta Empoli, Maurizio Sarri mampu mengatur semua pemainnya dengan mudah. Wajar saja lantaran kedua tim tidak mempunyai sejumlah pemain kelas dunia.

Namun, situasi tersebut berubah saat ini, Maurizio Sarri akan menjumpai beberapa pemain terbaik yang mempunyai ego cukup tinggi di Juventus. Maurizio Sarri tampaknya belum terbiasa melatih pemain kelas dunia. Hal tersebut bisa dilihat saat ia menangani Chelsea.

Dia beberapa kali terlibat perseteruan dengan para pemain Chelsea. Masalah terbesar yang dialaminya adalah saat penjaga gawang The Blues, yakni Kepa Arrizabalaga tidak ingin diganti pada laga tahap final ajang Piala Liga Inggris tahun lalu.

Kendati demikian, Chelsea menyebut kejadian tersebut lantaran salah paham saja, tetapi isu  yang beredar jika masalah itu terjadi karena kurangnya rasa hormat sang pemain kepada Maurizio Sarri.

Maurizio Sarri bakal menghadapi beberapa pemain yang tidak mudah ditaklukkan, terutama Cristiano Ronaldo. Ia tampaknya akan selalu mengalami kesulitan dengan para pemain Juventus.

1 thought on “3 Sebab Maurizio Sarri Akan Kesulitan Penuhi Harapan Juventus

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *